Festival JRY, Gubernur Pastika Ingatkan Agar Hidup Beragama Terapkan Nilai Universal

Denpasar, Cahaya Bali – Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengingatkan masyarakat Hindu mampu mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya itu untuk mengantarkan kehidupan umat yang lebih baik dengan menerapkan nilai-nilai universal secara konsisten dan konsekuen.

Demikian sambutan Gubenur Bali Made Mangku Pastika yang dibacakan oleh Kepala Biro Kesra Setda Prov Bali Drs. Anak Agung Gede Geriya MH di Denpasar, Minggu (15/7).

Hal itu disampaikan ketika membuka Festival Jagannatha Ratra Yatra (JRY) Nusantara 2018 yang diselenggarakan Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) Indonesia di Lapangan Timur Bajra Sandi Renon Denpasar berlangsung selama dua hari, 14-15 Juli.

Kegiatan itu mengusung tema “Melalui Festival Sri Jagannatha Ratra Yatra, Kita Mohon Karunia Penguasa Alam Semesta untuk Persatuan, Kedamaian, dan Kesejahteraan Bangsa dan Negara”.

Ia mengatakan, umat dapat membangun pemikiran dan tatanan kehidupan beragama yang lebih baik dalam menghadapi persaingan global.

Untuk, kegiatan itu sebagai ajang menempa diri, menambah wawasan dan lebih mendalami pengetahuian pustaka suci (Veda).

Upaya itu untuk mencapai keseimbangan secara jasmani dan rohani sehingga melahirkan insan-insan sujana.

Sementara itu, Ketua Sabha Pandita (Dharma Adhayaksa) Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba menambahkan, pihaknya memberikan apresiasi kepada ISKCON Indonesia yang sudah berupaya mempraktekan ajaran sesuai kitab suci.

“Apapun namanya yang terpenting mampu mempraktekan nilai-nilainya dalam kehidupan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kedamaian,” ungkapnya.

Agama harus memberikan kehidupan lebih baik dengan penuh kasih sayang.

Bukan sebaliknya saling merendahkan, mejelekkan dan menguatkan perbedaan yang memicu perpecahan.

“Mari belajar menghormati perbedaan, karena yang beda membuat indah dan sebagai pengendali diri (rem),” ujarnya.

Direktur Jenderal  Bimbingan Masyarakat  (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI, Prof Drs I Ketut Widnya PhD pihaknya juga mendorong umatnya sungguh-sungguh mempraktekkan agama.

Hal tersebut yang menjadi visi dan misi lembaganya sehingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Bahkan memberikan apresiasi terhadap ajaran Guru Rohani Srila Prabupada yang menjadi inspirasi spiritual dunia.

“Beliau mampu mengajarkan pengetahuan Veda ke berbagai belahan dunia pada Kaliyuga,” ungkapnya.

Serta mampu membangkitkan identitas mahluk hidup, sehingga mengetahui tujuan sejati kehidupan.

Wakil Bendahara PHDI Pusat I Dewa Gede Ngurah Utama meminta umat agar tetap menghormati kearifan lokal.

Upaya itu sebagai bentuk pelestarian kebudayaan Indonesia yang beragam.

Selain itu, umat Hindu di nusantara tidak bisa disamakan, mereka memiliki cara dan upakara menyesuaikan dengan daerah masing-masing.

Namun agar tetap memperhatikan nilai-nilai universal umat Hindu agar dilakukan setiap hari.

“Langkah ini untuk menjaga kerukunan intra umat selanjutnya ditingkatkan lebih luas menjadi antar agama,” harapnya.

Ketua Perkumpulan ISKCON Indonesia Nengah Wijaya meyakini agama untuk menciptakan kebahagiaan umat manusia.

“Agama dapat membantu masyarakat manusia menuju hidup yang lebih baik,” kata Wijana.

Ia mengaharapkan, agama mampu menghantarkan manusia kembali berpulang kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena, hal itu yang merupakan tujuan hakiki sebuah proses kehidupan, terlebih mendaptkan kesempatan sebagai manusia.

Kesempatan itu agar dimanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki diri agar tidak terlahir kembali ke dalam dunia material yang penuh dengan penderitaan yang harus mengikuti hukum material.

Untuk itu, pihaknya juga bagian dari Hindu mengajak umatnya agar tetap menjadi warga negara yang baik, serta ikut melestarikan budaya-budaya maupun kesenian yang memiliki nilai adi luhung.

“Meskipun ada banyak cara pemujaan kepada Tuhan, itu tidak menjadi persoalan, kita tetap saling menghargai karena masih bagian dari Hindu,” ujarnya.

Upaya itu sebagai bentuk dukungan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri beragam suku, ras, agama, adat, budaya dan keragamanan hayati.

Untuk itu, kegiatan itu sebagai bentuk implementasi Bhineka Tunggal Ika, karena sejatinya semua mahluk bersaudara (vasudhaiva kutumbakam).

Ia juga menjelaskan Ratha Yatra merupakan festival terbesar yang diadakan setiap tahun di Puri, India.

Arca-arca diarak diatas tiga buah kereta besar dari kuil ke sebuah tempat yang disebut Gundica.

Festival ini mmerayakan Kemuliaan Tuhan dan Persaudaraan Umat Manusia.

Puncak perayaan itu adalah ketika semua orang menarik kereta bersama-sama dengan satu hati dan pikiran yaitu sebagai pelayan Jagannath, Tuhan Alam Semesta.

Setiap tahun Jagannath Puri menjadi tempat bagi sebuah perayaan keagamaan yang melibatkan jutaan orang.

Citra Suci Sri Jagannath, Balabhadra( Baladeva), dan Subhadra keluar dari kuil dengan mengendarai kereta-kereta besar, diiringi prosesi yang megah dan meriah.

Perayaan besar ini disebut Ratha Yatra. Dilaksanakan pada hari kedua paruh bulan terang (sita-paksa/sukla-paksa) di bulan Asadha (Juli). (ART)

Berita Terkait

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close