Sekitar 80% pijat lelaki di Jakarta ‘tawarkan prostitusi’, mengapa Alexis saja yang ditutup?

Seorang pengamat kehidupan malam di Jakarta menyebut 'empat dari lima tempat spa laki-laki' di Jakarta memberikan layanan prostitusi.

Seorang sosiolog pun menilai ‘tidak efektif dan tidak tepat’ jika Pemprov DKI Jakarta hanya menutup Alexis.
Gubernur baru Jakarta, Anies Baswedan, sudah menutup Alexis dan pada Rabu (01/11) mengatakan kepada para wartawan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap tempat-tempat hiburan malam di Jakarta.

“Ada. Ada, cukup banyak. Kita akan periksa semuanya satu-satu. Dan kita akan bekerja dnegan senyap, seperti bekerja kemarin juga senyap,” kata Anies, seperti dikutip Okezone.
“Jadi, kepada semua yang memiliki kegiatan yang melanggar ketentuan, hentikan kegiatan itu. Kami akan bertindak tegas,” kata Anies.

Klaim bahwa sebagian besar griya pijat di Jakarta menawarkan prostitusi diungkap oleh Reza, admin sebuah forum komunikasi seks di internet dan aktif mendatangi griya pijat di ibu kota.
Ia mengungkapkan bahwa ‘banyak spa lelaki di Jakarta yang menyediakan paket all-in’.

Paket yang disebutnya sudah menjadi layanan resmi sejumlah manajemen griya pijat itu, terdiri dari ‘beberapa alternatif’.
Mulai dari pijat biasa, ‘layanan pemijatan alat vital’ oleh terapis yang kerap disebut sebagai “petik mangga (PM)”, dan layanan hubungan seks atau yang disebut dengan istilah “eksekusi”.

 

“Empat dari lima men’s spa di Jakarta menyediakan layanan tersebut. Nominalnya mulai dari Rp500.000 sampai Rp1,5 juta,” ungkapnya ketika dihubungi BBC Indonesia, Rabu (01/11).

Suasana kamar spa yang berada di lantai 7 Griya Pijat Alexis, Selasa (31/10). MUI juga menyatakan dukungannya terhadap langkah yang diambil oleh Gubernur Anies.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lewat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu tidak memperpanjang izin usaha Alexis, salah satunya karena “melanggar kesusilaan”.
Jika memang demikian, sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet, menilai ‘tidak adil’ jika Pemerintah Jakarta hanya menutup Alexis. “Kalau namanya kebijakan ya harus bersifat menyeluruh, berlaku untuk seluruh warga kota dan bisnis di kota, tidak bisa untuk satu tempat saja.”
Dia menambahkan bahwa pemerintah bisa saja melakukan penutupan berbagai griya pijat tersebut, “tetapi kalau tujuannya untuk menghapus bisnis prostitusi, itu tidak akan mungkin bisa tercapai.”

Meskipun begitu, pengamat kehidupan malam Jakarta, Reza, bercerita bahwa tidak semua griya pijat membolehkan aktivitas prostitusi. Ada beberapa griya yang melarang, dan jika terapis atau juru pijat ketahuan melakukan transaksi seksual diam-diam, maka ‘akan diberi sanksi parah’.

“Ada spa yang terapisnya diberi berbagai macam proteksi, misalnya baju dua-tiga lapis. Jika nakal dan ketahuan, terapisnya pernah ada yang digunduli,” tuturnya.

Sauna di Alexis.

Walau bagaimanapun, sosiolog Robert menegaskan prostitusi tidak akan bisa dihapus dari kehidupan kota, termasuk Jakarta. Prostitusi disebutnya muncul sebagai bagian residu dari industri. “Mengapa? Karena industri itu kan terkait dengan orang stres, alienasi, dan bisnis seks itu adalah bagian pelengkapnya. Mereka akan mencari tempat pelesiran.”

Secara sosiologi, Robert menilai seks selalu merupakan salah satu residu kehidupan kota. “Ini sudah ada sejak zaman lampau. Sebelum kapitalisme pun sudah begini.”

Menurutnya yang bisa dilakukan pemerintah Jakarta adalah melakukan kontrol terhadap tempat yang berpotensi melakukan prostitusi, bukan menutupnya. Kontrol dapat berupa pembatasan, seperti tempat usaha yang tidak boleh berdekatan dengan perumahan warga dan sekolah.

Selain itu usia orang yang berkunjung juga dibatasi, serta penyedia jasa seks harus melakukan cek kesehatan rutin.

Prostitusi individu
Lebih jauh lagi, Robert mengungkapkan bahwa penutupan griya pijat seperti Alexis tidak tepat dan tidak efektif untuk memberantas prostitusi karena ‘zaman dan teknologi sudah berubah’.

“Bisnis seksual itu sekarang tidak hanya dilakukan di tempat yang terbuka, tetapi dilakukan lewat internet dan media sosial. Para broker seks juga berbisnis sendiri lewat media sosial, tidak perlu tempat (seperti griya pijat), jadi (penutupannya) tidak akan efektif,” tandas Robert.

Penutupan griya pijat yang dinilai melakukan aktivitas prostitusi disebutnya hanya akan semakin memperluas praktik prostitusi individual yang sudah terjadi “dan tidak dapat diberantas”.

Dia pun menilai penutupan Alexis yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno, hanyalah investasi politik moral dari janji pejabat publik.

Janji penutupan Alexis disampaikan Anies-Sandi saat kampanye.

Kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Rabu (01/11), Anies menyatakan timnya telah melakukan investigasi sejak lama terhadap Alexis. Hasil inilah yang dijadikan pertimbangan untuk menutup griya pijat itu.

“Jadi kalau ada tempat yang bermasalah apalagi masalahnya moral, saya tidak akan diamkan. Karena saya harus pertanggungjawabkan ini di mata masyarakat dan di mata Tuhan,” pungkas Anies.

Tags

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close