Badan Geologi ESDM Turunkan Status Gunung Agung dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga)

Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan.

Karangasem – Hasil evaluasi melalui pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya asap dari bibir kawah hingga setinggi 1500 meter dengan intensitas putih tipis sampai sedang dengan tekanan lemah dan mulai mengalami penurunan pada tanggal 20 Oktober 2017. Sehingga Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral(ESDM) melalui surat edaran yang diterima cahayabali.com pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA. menetapkan status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga) berdasarkan hasil analisis data visual dan kegempaan serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya.

Penginderaan Jauh Satelit

Peningkatan energi termal Gunung Agung mulai teramati setidaknya mulai 10 Juli 2017 dimana satelit ASTER TIR mengindikasikan adanya peningkatan jumlah area panas. Pada bulan Agustus dan September 2017, jumlah area panas di Kawah Gunung Agung meningkat cukup signifikan. Melalui pemantauan satelit Sentinel-2, peningkatan cepat energi termal Gunung Agung teramati dengan jelas pada periode 5 September, 15 September dan 20 September 2017. Hal ini berkorelasi dengan peningkatan kegempaan seismik yang juga terjadi pada periode ini, mengindikasikan pergerakan magma yang cukup signifikan di bawah permukaan. Pada periode pemantauan selanjutnya, energi termal masih teramati berada pada tingkatan yang relatif sama hingga pertengahan Oktober 2017. Setelah itu, setidaknya sejak 14 Oktober 2017, energi termal yang terdeteksi oleh citra satelit ASTER TIR maupun Sentinel-2 mengindikasikan adanya penurunan aktivitas magmatik.

Rekomendasi

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7.5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.

Tinggi asap G. Agung tanggal 1 September – 29 Oktober 2017. Sumber : Surat Edaran Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.

Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.

Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.

Kompilasi Data Pemantauan G. Agung hingga 29 Oktober 2017 Sumber : Surat Edaran Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.

Himbauan

Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.

Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.(adE/CB)

Sumber : Surat Edaran Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.

Tags

Berita Terkait

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close