Menjelajah Budaya dan Tarian Indonesia di Sudut Nusa Dua Bali

Nusadua – Lantunan lagu Janger menguatkan kesan Bali dalam tarian yang diadakan di sudut Nusa Dua itu. Lima orang penari perempuan melenggak-lenggok luwes mengikuti irama. Namun penampilan itu bukan hanya soal Bali, tapi juga Nusantara.

Belum usai penampilan tarian Bali, nuansa berubah dengan kemunculan para penari dari Papua. Lagu Janger pun berganti dengan Yamko Rambe Yamko. Dengan koteka khas Tanah Papua, para penari begitu energik mengikuti gerakannya.

Suasana berubah kembali menjadi lebih modern. Musik hip-hop dengan penari berkostum kaus, celana pendek, topi, dan sejumlah aksesori gelang di tangan menggantikan para penari dari belahan timur Indonesia itu.

Tapi tak semua penari hip-hop itu berkostum modern. Di antara mereka, terselip penari dengan pakaian khas Jawa lengkap dengan blangkon. Meski ada yang berbeda, namun mereka tetap dalam harmoni.

Sejumlah tarian campur-aduk itu hanyalah pembuka dari pertunjukkan bertajuk Devdan Show yang biasa ditampilkan di Nusa Dua Theatre, Bali. Usai tarian tersebut, muncul sosok kera legendaris, Hanoman.

Hanoman beratraksi lincah meloncat ke sana kemari hingga memenuhi seluruh area panggung. Ia lah sang bintang utama. Dan penonton pun bertepuk tangan meriah untuknya.

Usai penampilan Hanoman, pertunjukkan tersebut ditutup dengan gabungan tarian dari seluruh penampil, mulai dari Bali, Papua, hip-hop, dan tentu sang bintang utama Hanoman.

Devdan Show aslinya merupakan penampilan teatrikal 90 menit yang mengisahkan perjalanan seorang anak usai membuka sebuah peti berisi benda-benda unik khas Indonesia.

Benda-benda itu membawa sang anak, juga penonton, berkeliling Indonesia. Mulai dari Sumatera, lalu ke Jawa, menyeberang ke Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga berujung di Papua. Penonton seolah dibawa menjelajah kebinekaan Indonesia melalui kekayaan budayanya.

Misalnya ketika sang anak berada di Bali. Ia akan membawa udeng atau ikat kepala khas yang biasa dikenakan para Bli Bali. Tak lupa, para penari menampilkan tarian khas Pulau Dewata lengkap dengan pakaian tradisional serta lagu khas pusat pariwisata Indonesia itu.

Namun bukan hanya budaya tradisional berupa tarian daerah, pertunjukkan ini juga menampilkan aksi akrobatik dan trik sulap selama 20 menit.

Pimpinan tim penari, Suwanta Ari mengatakan, pertunjukan ini sengaja dibuat lantaran ingin menampilkan kebudayaan khas Indonesia. Peti yang ditemukan sang anak merupakan harta karun berisi kebudayaan Indonesia.

“Pertunjukan ini memang ingin menunjukkan harta karun Nusantara. Beragam kebudayaan ada di dalamnya,” kata Ari saat ditemui CNNIndonesia.com, di sela pertunjukkan.

Nama acara yang bertajuk Devdan, bukan dibuat sembarangan. Nama ini merujuk bahasa Sansekerta, Deva dan Dhana yang bermakna ‘Anugerah Tuhan’. Devdan dianggap sebagai representasi kekayaan Indonesia yang berasal dari anugerah Tuhan.

Acara yang diadakan tiap Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu pukul 19.30 WITA di Nusa Dua Theatre, Indonesia Tourism Development Corporation ini menuntut penonton untuk memesan tiket terlebih dahulu bila ingin menonton. Tiket dapat dipesan melalui laman resmi acara ini sebelum pukul 13.00 WITA.

Tiket jelajah kebudayaan Nusantara ini dijual mulai dari Rp520 ribu hingga Rp1,56 juta.

Tags

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close